Saturday, August 6, 2011

Apabila Keluar Darah Haid Sebelum Terbenamnya Matahari, Apakah Membatalkan Puasa?

Pertanyaan:
Apakah kalau datang bulanan disela-sela puasa, apakah menyempurnakan puasa atau tidak?

Jawaban:
Alhamdulillah

Kalau seorang wanita datang haid disela-sela puasa, maka puasanya rusak. Meskipun keluarnya darah sebantar saja sebelum terbenam matahari. Maka dia diwajibkan mengqodo’ kalau itu puasa wajib. Dan diharamkan melanjutkan puasa sementara dia dalam kondisi haid.

An-Nawawi rahimahullah dalam kitab ‘Al-Majmu’, 2/386 berkata, ‘Umat berijma’ akan keharaman puasa bagi orang haid dan nifas. Dan tidak sah puasanya. Begitu juga umat berijma’ diharuskan mengqodo’ untuk puasa Ramadan. Yang menukil ijma’ Tirmizi, Ibnu Munzir, Ibnu Jarir, teman-teman kami dan ulama’ lainnya.’ Selesai dengan ringkasan.

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab ‘AL-Mugni, 4397 berkata, ‘Ahli ilmu telah bersepakat (Ijma’) bahwa orang haid dannifas tidak dihalalkan untuk berpuasa. Keduanya berbuka di bulan Ramadan dan mengqodo’nya. Keduanya kalau berpuasa tidak diterima. Dimana Aisyah radhiallahu’anha berkata, ‘Kami dahulu haid pada masa Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam kemudian kami diperintahkan untuk mengqodo’ puasa dan tidak diperintahkan mengqodo’ shalat.’ Muttafaq ‘alaihi. Perintah hal itu hanya dari Nabi sallallahu’alahi wa sallam. Abu Said berkata, ‘Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

(أَلَيْسَ إحْدَاكُنَّ إذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ , فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا) . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

‘Bukankan salah satu diantara kamu semua, ketika haid tidak shalat dan tidak puasa? Itu adalah diantara kekurangan agamanya.’ HR. Bukhori.

Orang haid dan orang nifas sama, karena darah nifas adalah darah haid. Hukum keduanya sama. Kapan saja waktu siang mendapatkan setitik darah (haid) maka, rusak puasa hari itu. baik didapatkan awal waktu atau di akhirnya. Kapan saja orang haid berniat puasa dan menahan (dari pembatal puasa) sementara dia mengetahui akan keharaman hal itu, maka dia berdosa dan (puasanya) tidak diterima.’ Selesai

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam kitab ‘Ad-Dima’ Tobi’iyyah Lin Nisa’ hal. 28 berkata, ‘Kalau dia haid dalam kondisi puasa, maka puasanya batal meskipun hal itu terjadi sekejap menjelang terbenam matahari. Dan diharuskan mengqodonya kalau itu puasa wajib. Sementara kalau merasakan sakit akan datang haid sebelum terbenam matahari dan tidak keluar (darah) kecuali telah terbenam matahari, maka puasanya sempurna tidak batal menurut pendapat yang kuat. Selesai.

Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/155 ditanya tentang wanita puasa dan sebelum terbenam matahari dan sebelum azan dalam waktu singkat datang haid, apakah puasanya batal?

Maka dijawab, ‘Kalau haid datnag sebelum terbenam matahari, maka puasanya batal dan harus diqodo’. Kalau setelah terbenam matahari, maka puasanya sah tidak perlu mengqodo’nya.’ Selesai .

sumber: www.islam-qa.com
Publish: artikelassunnah.blogspot.com

Friday, August 5, 2011

Dapatkan Tausiyah Melalui BBM

Disaat anda sibuk dengan bisnis atau pekerjaan atau sedang mengurus rumah, sekarang masih bisa terus mengikuti dakwah para asatidz Radio Rodja. Bagi anda yang memiliki handphone Blackberry, silahkan bergabung dengan grup dakwah Al Ilmu.

Grup Al Ilmu ini langsung diasuh oleh para ustadz yang biasa mengisi kajian di Radio Rodja. Setiap hari anda akan mendapatkan materi bacaan yang Insya Allah sesuai dengan manhaj Salaf. Anda juga bisa mengajukan pertanyaan di grup tersebut.

Grup Al-Ilmu dibina langsung oleh Ustadz Abu Yahya Badsrusalam, Ustadz Abu Qotadah, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Ustadz Mahfud Umri, Ustadz Abdul Muhsin Firanda Andirja dan Ustadz Kholid Syamhudi.

Untuk menjadi member silahkan kirim PIN anda ke email kami di alilmu.blackberry@gmail.com. Setelah mengirim PIN anda akan di invite ke salah satu grup Al-Ilmu. Grup akah dipisahkan akhwat dan ikhwan. Dan ada pun format email yang dikirim adalah nama_PIN_jenis kelamin_domisili.

Adapun tata tertib dalam menjadi Group Al-Ilmu adalah :

1. Grup ini dibuat untuk media belajar Islam yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman para Shahabat.

2. Grup ini akan diisi kajian dari Ustadz-ustadz yang bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.

3. Setiap grup akan dimoderator oleh salah satu orang yang di rekomendasikan oleh kami.

4. Setiap anggota diperbolehkan untuk menyebarkan materi dari grup ini ke pihak lain.

5. Jika ada pertanyaan, silahkan cantumkan di grup yang nantinya akan diteruskan kepada ustadz melalui moderator yang sudah kami pilih.

6. Anggota tidak diperkenankan memposting materi, baik karya sendiri atau dari pihak lain dan juga tidak boleh memposting himbauan penggalangan dana untuk kepentingan siapapun tanpa seizin moderator

7. Anggota diperkenankan meluruskan suatu topik jika ada kesalahan didalamnya, berinteraksi dengan member lain dan saling memperkenalkan diri dan lainnya.

8. Setiap anggota boleh merekomendasikan kawan lain untuk bergabung dalam Grup Al-Ilmu.

Demikian tata tertib yang harus dijalankan di Grup Al-Ilmu dan semoga dapat dipahami.

Anda juga bisa daftar secara online. Untuk Daftar klik disini

Hukum Doa Bersama Setelah Shalat Tarawih

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya tentang shalat Taraweh, antara perkara sunnah yang shahih dan bid’ah yang diada-adakan, serta doa bersama setelah Taraweh?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Berkaitan dengan bagian pertama, silahkan merujuk pada pembahasan shalat Tarawih dan Lailatul Qadar dalam website ini.

Adapun doa bersama setelah shalat Tarawih, ini adalah bid’ah. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersdabda, “Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka (amalan itu) tertolak.” (HR. Muslim, 3243)

Yang ada dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah shalat Taraweh adalah ucapan:


سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدًُّوس


"Mensucikan kepada Raja yang Maha suci”

Sebanyak tiga kali, dan dikeraskan pada bacaan ketiga. (HR. Ahmad, 14929. Abu Dawud, 1430. Nasa’i, 1699)

Dari Ubay bin Ka’b radhiallahu’anhu berkata:


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ : سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ، وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ (صححه الألباني في صحيح النسائي، رقم 1653)


“Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat witir membaca sabbihisma rabbikal a’la (surat Al-A’la) dan qul ya ayyuhal kafirun (Al-Kafirun) dan qul huwallahu ahad (Al-Ikhlas). Setelah salam beliau membaca: subhanal malikil quddus (mensucikan kepada Raja yang Maha suci). Subhanal malikil quddus. subhanal malikil quddus dan pada bacaan tersebut (ketiga) beliau mengeraskan suaranya." (Dishahihkan oleh al-Albany dalam shahih an-Nasa’i, no. 1653)

Lagi pula, dalam shalat witir Imam memanjatkan doa qunut dan orang-orang shalat di belakangnya akan mengamininya, sebagaimana dilaksanakan oleh Ubay bin Ka’b radhiallahu’anhu saat menjadi imam shalat Taraweh pada masa Umar radhiallahu’anhu. Hal ini sudah cukup (sebagai doa) daripada membuat amalan bid’ah ini.

Sungguh benar ungkapan seseorang:

Seluruh kebaikan adalah mengikuti ulama salaf dan semua keburukan adalah bid’ah kaum di kemudian hari

Wallahu ‘alam.

[Sumber: Soal Jawab Tentang Islam di www.islamqa.com]

Thursday, August 4, 2011

Info Bedah Buku: MANISNYA DUNIA, PAHITNYA NERAKA

HADIRILAH BEDAH BUKU:

MANISNYA DUNIA, PAHITNYA NERAKA.

Bersama: Ustadz Subhan Umar Bawazier

Hari & Tanggal: Ahad, 7 Agustus 2011

Waktu: Pukul 09:00 S/D 12:00

Tempat: Masjid Jami Al Mubarak
Jl. Gajah Mada (Krukut) Belakang Pos Kota - Jakarta Barat

Informasi: Nizar Al Khotib 0818 0886 4443

Wednesday, August 3, 2011

SMS Tausiyah Gratis Khusus Di Bulan Ramadhan

Yayasan Pendidikan Islam Al Atsary (YPIA) Yogyakarta menyelenggarakan program SMS Tausiyah selama bulan Ramadhan. Dengan mengikuti program ini anda bisa mendapatkan tausiyah berupa nasehat-nasehat dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta perkataan para ulama salaf yang dapat menyegarkan jiwa. Tausiyah ini dikirim secara rutin melalui SMS.


Untuk mengikuti program ini caranya cukup mudah:

1. Ketik SMS dengan format: daftar#[nama]#[pekerjaan]
contoh: daftar#rudi#mahasiswa

2. Kirim ke nomor 087739111351

Insya Allah program ini diselenggarakan mulai tanggal 1 – 20 Ramadhan. Program ini tidak dipungut biaya (GRATIS). Daftarkan nomor anda sekarang juga!

Monday, August 1, 2011

Bagaimana Cara Membiasakan Anak-Anak Berpuasa?

Pertanyaan:
Saya mempunyai anak berumur 9 tahun. Saya ingin petunjuk cara membiasakan anakku berpuasa di Bulan Ramadan, insyaallah. Karena dia tahun lalu berpuasa 15 hari saja di bulan Ramadan?



Jawaban:
Alhamdulillah

Pertama,

Sangat menyenangkan kami melihat pertanyaan seperti ini, hal ini menunjukkan perhatian yang sangat besar kepada anak-anak dan pendidikan untuk taat kepada Allah Ta’ala. Hal ini termasuk nasehat orang yang menjadi tanggung jawab yang Allah berikan kepada kedua orang tua.

Kedua,

Anak berumur 9 tahun bukan termasuk mukallaf (terkenan beban kewajiban) menurut syara untuk berpuasa karena belum balig. Akan tetapi Allah Ta’ala membebani kedua orang tua untuk mendidik anak-anaknya dalam beribadah. Maka Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk mengajarkan shalat kepada mereka ketika berumur 7 tahun dan diperintahkan memukulnya ketika berumur 10 tahun. Sebagaimana para shahabat yang mulia radhiallahu anhum mengajarkan puasa kepada anak-anaknya sewaktu kecil untuk membiasakan dalam ketaatan yang agung ini. Semua itu menunjukkan perhatian yang besar terhadap keturunan agar tumbuh sebaik mungkin pada sifat dan prilakunya.

Dalam masalah shalat, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (رواه أبو داود، رقم 495، وصححه الألباني في صحيح أبي داود)

"Perintahkan anak-anak kalian untuk (melakukan) shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (ketika meninggalkan shalat) saat berumur sepuluh tahun. Dan pisahkan ranjang diantara mereka." (HR. Abu Daud, 495 dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud)

Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiallahu anha, dia berkata:


أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ (رواه البخاري، رقم 1960 ومسلم، رقم 1136)


‘Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari asyuro (10 Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya berbuka, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kita berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insyaallah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa." HR. Bukhori, 1960 dan Muslim, 1136.

Umar radhiallahu’anhu berkata kepada orang yang mabuk-mabukan di bulan Ramadan, "Celakalah anda!! padahal anak-anak kami berpuasa!? Kemudian dia memukulnya (sebagai hukuman)." (HR. Bukhari –menggantung (mu’allaq)- bab Puasa Anak-anak).


Ketiga,

Terkait dengan metode pembiasaan anak-anak untuk berpuasa, coba perhatikan hal-hal berikut ini diantaranya,

1. Menjelaskan keutamaan puasa kepada mereka, bahwa hal itu termasuk sebab masuk ke dalam surga. Di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan dimana hanya orang-orang puasa yang masuk ke dalamnya.

2. Membiasakan sebelumnya untuk berpuasa seperti puasa beberapa hati di bulan Sya’ban agar tidak kaget dengan puasa di bulan Ramadan

3. Puasa pada sebagian siang, dan menambahi waktunya sedikit demi sedikit

4. Mengakhirkan sahur sampai di akhir malam, hal itu membantu puasa mereka di siang hari

5. Menyemangati mereka berpuasa dengan memberi hadiah yang diberikan setiap hari atau setiap minggu

6. Menyanjung mereka di depan keluarga sewaktu berbuka, ketika sahur. Hal itu dapat menaikkan semangat spiritualnya.

7. Mendorong semangat berlomba-lomba apabila dia mempunyai banyak anak tanpa harus mencela yang tertinggal.

8. Melalaikan rasa lapar dengan tidur atau dengan mainan mubah yang tidak memerlukan tenaga. Sebagaimana para shahabat yang mulia melakukan terhadap anak-anaknya. Disana ada program anak-anak yang tepat. Film kartun di chanel islam yang terpercaya dapat menyibukkan mereka.

9. Diutamakan agar sang ayah mengajak anaknya –khusus setelah Ashar- ke masjid untuk ikut shalat, menghadiri pengajian, tetap di masjid untuk membaca Al-Qur’an dan zikir kepada Allah Ta’ala.

10. Mengkhususkan berkunjung di siang hari dan malam hari ke keluarga yang anak-anaknya berpuasa untuk memberi semangat kepada mereka terus melakukan puasa

11. Memberi imbalan kepada mereka dengan tamasya yang mubah setelah berbuka puasa atau memasakkan makanan kesukaannya dan kue-kue, buah-buahan dan jus.

Perlu diperhatikan kalau sekiranya anak-anak merasakan keletihan yang sangat, jangan dipaksa untuk menyempurnakan puasanya. Hal itu agar tidak menjadikan sebab dirinya benci beribadah atau menjadi sebab berbohong atau timbulnya penyakit. Karena pada dasarnya, dia belum termasuk mukallaf (terkena beban kewajiban). Hendaknya masalah ini diperhatikan, jangan terlalu keras dalam memerintahkannya berpuasa.

Wallahu a’lam .


Sumber: islamqa.com
Publihs: artikelassunnah.blogspot.com